Lumpia Semarang Punya Isian yang Ikonik, Ternyata Perjalanannya Berkaitan dengan Percampuran Budaya
Kalau ngomongin oleh-oleh khas Kota Semarang, Jawa Tengah, rasanya kurang afdal kalau belum menyebut lumpia. Camilan yang satu ini punya ciri khas yang gampang dikenali: kulit tipis renyah dengan isian rebung alias bambu muda, yang biasanya dipadukan dengan telur, udang atau ayam, lalu ditemani saus manis-gurih dan cabai. Tapi ternyata, perjalanan lumpia Semarang nggak sesederhana makanan yang tinggal digoreng lalu disantap. Lumpia justru punya cerita panjang tentang pertemuan budaya Tionghoa dan Jawa. Dalam kisah sejarah kuliner yang banyak diceritakan, makanan ini berkembang dari pertemuan Tjoa Thay Yoe, pendatang dari China, dengan Wasih, pedagang makanan asal Jawa. Keduanya kemudian menikah dan mengembangkan makanan yang memadukan karakter masakan dari dua latar budaya berbeda.
1. Rebung jadi identitas paling ikonik
Salah satu hal yang bikin lumpia Semarang gampang dibedakan adalah isiannya. Rebung atau bambu muda menjadi bahan utama yang memberi tekstur renyah sekaligus aroma khas. Dalam berbagai resep lumpia Semarang, rebung biasanya dimasak bersama telur, udang atau daging, kemudian dibumbui sampai rasanya meresap.
2. Ada cerita percampuran budaya di balik rasanya
Lumpia Semarang sering dianggap sebagai contoh kuliner peranakan. Karakter masakan Tionghoa bertemu dengan selera Jawa yang cenderung kuat pada rasa gurih, manis, dan penggunaan kecap. Jadi, satu gulungan lumpia sebenarnya bisa dibilang seperti “hasil kolaborasi” dua tradisi kuliner.
3. Resepnya terus hidup lintas generasi
Menariknya, lumpia bukan cuma makanan jadul yang bertahan karena nostalgia. Sampai sekarang berbagai usaha lumpia di Semarang masih berkembang dan melakukan inovasi, sementara varian tradisional tetap dipertahankan.
4. Lumpia akhirnya melekat dengan identitas Semarang
Saking kuatnya hubungan makanan ini dengan kotanya, Semarang bahkan sering disebut sebagai “Kota Lumpia”. Ada pula sentra dan penjual legendaris yang membuat makanan ini tetap menjadi buruan wisatawan ketika mampir ke Semarang.
Kalau dilihat dari sudut pandang ilmiah dan urban, cerita lumpia sebenarnya cukup menarik karena makanan bisa menjadi bukti sederhana bagaimana sebuah kota berkembang lewat interaksi manusia. Dalam ilmu sosial, proses seperti ini sering dikaitkan dengan akulturasi, yaitu ketika unsur dari budaya berbeda bertemu lalu menghasilkan bentuk baru tanpa harus menghilangkan seluruh identitas asalnya. Semarang sejak dulu menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat, sehingga pertukaran kebiasaan, bahasa, perdagangan, sampai makanan menjadi sesuatu yang wajar. Bahkan kajian mengenai masyarakat Tionghoa di Jawa menunjukkan bahwa makanan dapat menjadi salah satu ruang negosiasi budaya yang kemudian membentuk identitas baru. Dari sisi pangan, rebung sendiri menarik karena merupakan tunas muda bambu yang memiliki kandungan serat dan air cukup tinggi. Ketika diolah dengan bumbu dan bahan lain, teksturnya berubah menjadi lebih lembut tetapi tetap punya sensasi renyah. Jadi, rasa khas lumpia bukan cuma soal resep, tapi juga hasil dari proses pengolahan bahan dan kebiasaan makan yang berkembang di lingkungan perkotaan.
Pada akhirnya, lumpia Semarang bukan sekadar camilan buat dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Di balik kulit tipis dan isian rebungnya, ada cerita tentang pertemuan manusia, perdagangan, keluarga, serta budaya yang saling memengaruhi. Makanya, sekali makan lumpia Semarang, sebenarnya kita juga sedang mencicipi sedikit cerita panjang tentang bagaimana budaya bisa menyatu lewat makanan.